Menyibak Agama Adat “Penghayat” Kepercayaan di Kepulauan Talaud

TALAUD, fokussulut.com – Indonesia memiliki beragam agama dan kepercayaan yang tersebar di hampir seluruh wilayah. Ini adalah kekayaan masyarakat multikultur yang dimiliki negara kita. Salah satunya adalah Agama Adat “Penghayat” yang merupakan salah satu kepercayaan turun-temurun dari leluhur masyarakat Talaud, tepatnya di Desa Musi, Kepulauan Talibabu.

Meski berada ditengah dominasi agama resmi modern Indonesia, masyarakat disana terus memegang teguh kepercayaan yang menurut mereka adalah agama adat pertama di Kepulauan Talaud, beranda terdepan di utara Indonesia. Penganutnya dikenal sebagai masyarakat “Penghayat Kepercayaan”.

Bagi para pelancong, Musi sendiri adalah sebuah desa asri yang berada di tepi pantai Pulau Salibabu. Pepohonan rindang dan keramahan warga menjadi daya tarik tersendiri jika berada disini. Sebagai komunitas yang terus memegang adat istiadat, agama ini diyakini telah berusia sekitar 133 tahun yang dikenalkan oleh Tete Bawangin Panahal, pimpinan pertama agama penghayat pada 1884.

Setelah Tete Bawangin Panahal, agama adat ini pernah dipimpin oleh 3 orang masing-masing Tete Asili Panahal (alm), Tete Lahoba Panahal (alm), dan Suenaung Panahal lelaki berusia 70 tahun yang masih memegang jabatan hingga sekarang. Mereka menjadi teladan bagi umatnya dengan kharsima yang dimiliki.

Ritual ibadah Agama Adat “Penghayat” Kepercayaan yang memiliki anggota kurang lebih 262 Kepala Keluarga (KK) ini dilakukan di Puncak Bukit Wanala Padaringin Arara’ U Mawu dalam sebuah bangunan rumah ibadah dengan tampilan depan bernuansa bambu. Bahasa Talaud wajib digunakan saat ritual dan setiap penghayat yang akan mengikuti acara ibadah harus mengenakan pakaian berwarna putih. Warna putih merupakan lambang kesucian bagi para penganutnya.

Tak akan mudah untuk mencapai Puncak Bukit Wanala Padaringin Arara’ U Mawu. Ada sebanyak 268 anak tangga yang harus dilewati serta harus mengikuti aturan kearifan lokal jemaat agama penghayat yaitu tidak menggunakan atribut berwarna merah dan jangan merokok.

Sesuai ajaran Kitab Pembawa Damai yang merupakan kitab suci mereka, Hari Sabat jatuh pada hari Sabtu. Namun pada setiap Jumat malam jemaat melakukan ibadah malam pertobatan di Gedung Gereja yang berada di Kampung. Sedangkan pada setiap hari Rabu pukul 17.00 sore, seluruh anggota jemaat diwajibkan untuk beribadah di Puncak Bukit Wanala Padaringin Arara’ U Mawu dipimpin langsung oleh pemimpin agama.

Tete Bawangin Panahal dipercaya menerima wahyu penghayatan di Puncak Bukit Wanala Padaringin Arara’ U Mawu dan pada tahun 1926 menerima wahyu dari Yang Maha Kuasa untuk menulis Kitab Pembawa Damai, kitab suci agama penghayat keyakinan. Kepercayaan ini mempercayai Tiga Allah Yang Esa yaitu Mawu Walua’da (Tuhan menjaga), Mawu Ruata Yamang (Allah Bapa), dan Hara’una Ukas (Allah Roh Kudus).

Bagi para pecinta wisata alam, budaya dan religi, Desa Musi dan kepercayaan turun temurunnya dapat menjadi prioritas perjalanan wisata. Alam nan asri melengkapi perjalan wisata di Desa yang masuk wilayah Kecamatan Lirung ini. Namun untuk berkunjung dan bersosilisasi langsung dengan masyarakat agama ADAT, sebaiknya bertemu pimpinan desa terlebih dahulu untuk dipertemukan dengan Pimpinan Penghayat.

Selain masih memegang teguh kearifan lokal, masyarakat disini masih menjaga tradisi kelestarian alam sekitar. Disekitar lokasi bukit terdapat pantai dengan terumbu karang yang indah. Namun jangan sembarang beraktivitas karena ada larangan menangkap ikan di kawasan pantai yang membuat ekosistem dan habitat ikan tetap terjaga.

Namun jangan kuatir, sebab pengunjung tetap diperbolehkan melakukan aktivitas diving dan snorkling. Perjalanan wisata akan terasa lengkap dengan sekali dayung dua pulau terlampaui. Dapat melihat secara langsung aktivitas agama adat serta menikmati keindahan alam nan mempesona.

 

Facebook Comments